Jangan mudah putus asa,terus berdoa dan selalu SEMANGAT

Rabu, 22 September 2010

Sejarah Akuntansi Dasar & Pengertiannya

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena hanya dengan petunjuk dan bimbingannya lah maka makalah ini bisa saya selesaikan, dan tidak lupa pula penulis ucapkan shalawat serta salam dan keberkahan dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan segenap orang yang mengikutinya. Semoga apa yang tertuang dalam makalah ini bisa bermanfaat dan bisa menjadi bahan perdebatan sehingga nantinya akan tercapai suatu kesepakatan bersama.
Adapun dalam pembuatan makalah ini, saya sebagai penyusun menyadari betul akan kekurangan-kekurangan yang masih jauh dari kesempurnaan dari yang diharapkan, dan dengan ini mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak pembaca yang sifatnya membangun untuk kemajuan kita bersama, agar makalah ini dapat sempurna dan dapat dipandang sebagai karya tulis. Akhir kalam penulis sampaikan tarima kasih.
Cirebon, Januari, 2009
Penulis
Subandi
BAB I
PENDAHULUAN

  1. SEJARAH AKUNTANSI
Menurut para ahli ekonomi, akuntansi ada sejak manusia mengenal uang sebagai alat untuk pembayaran yang sah. Pencatatan keluar masuknya uang, timbulnya hutang – piutang serta transaksi-transaksi lainnya dilakukan orang mula-mula di atas lempengan tanah liat, yang kemudian berkembang dengan menggunakan lontar. Naskah yang menggunakan lontar tersebut berasal dari negara Arab (Mesir), pada waktu itu Mesir merupakan Koloni (Jajahan) Romawi. Naskah tersebut hingga sekarang masih tersimpan dengan baik, berasal dari Babilonia pada tahun 3600 SM.
Setelah bangsa Romawi menemui kesulitan menggunakan angka-angka mereka sendiri didalam pencatatan akuntansi, maka kemudian mereka menggunakan angka Arab (angka desimal), yang pada waktu itu sudah dikenal oleh orang Mesir.
Evolusi akuntansi terjadi bersamaan dengan ditemukannya sistem pembukuan berpasangan (DOUBLE – ENTRY) oleh pedagang-pedagang Venesia yang merupakan pedagang yang terkenal dan ulung pada abad itu. Double – Entry merupakan pencatatan seluruh transaksi kedalam dua aspek yaitu “debet dan kredit” yang orientasinya selalu dalam keadaan seimbang.
Pada abad ke 15 tepatnya tahun 1494 akuntansi yang menggunakan angka Arab berkembang di Italia. Buku yang pertama diterbitkan oleh orang Italia tentang akuntansi baru muncul pada akhir abad ke 15, dimana buku ini merupakan hasil karya seorang Venesia yang bernama Luca Pacioli. Buku ini berjudul “SUMMA DE ARITHMATICA, GEOMETRICA PROPORPIONI ET PROPORTIONALITA”. Bagian dari buku tersebut yang membahas tentang akuntansi berjudul “TRACTACUS DE COMPUTIS ET SCRIPTORIA”. Buku inilah yang kemudian tersebar di benua Eropa barat dan kemudian dikembangkan kembali oleh para ahli-ahli akuntansi sehingga timbulah beberapa sistem akuntansi dengan tetap mengacu pada metode yang digunakan oleh Luca Pacioli.
Sistem yang berkembang tersebut dinamakan sesuai dengan nama yang mengembangkannya atau nama negaranya masing-masing. Misalnya sistem Belanda (Sistem Continental) dan Amerika serikat (Sistem Anglo Saxon). Sistem-sistem tersebut kemudian berjalan sesuai dengan perkembangannya. Pada abad sekarang ini sistem yang paling banyak digunakan yaitu sistem Anglo Saxon, hal ini disebabkan karena sistem Anglo Saxon dapat digunakan untuk mencatat berbagai macam transaksi, sedangkan sistem yang lainnya agak sukar untuk digunakan. Hal ini disebabkan karena sistem yang lain sering memisahkan antara pembukuan dengan akuntansi sedangkan dalam sistem Anglo Saxon, pembukuan merupakan bagian dari akuntansi.
Teori dan praktek akuntansi semakin berkembang pada abad ke 20 sejalan dengan perkembangan teknologi. seperti program-program akuntansi komputer yang semakin banyak beredar dipasaran pada saat ini.
BAB II
PEMBAHASAN
  1. PENGERTIAN AKUNTANSI
Beberapa orang mengakui bahwa akuntansi adalah bahasa bisnis. Tetapi apa sebenarnya akuntansi itu? Seberapa pentingnya akuntansi terhadap bisnis?
Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.
Akuntansi berasal dari kata asing accounting yang artinya bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah menghitung atau mempertanggungjawabkan. Akuntansi digunakan di hampir seluruh kegiatan bisnis di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sehingga disebut sebagai bahasa bisnis.
Menurut American Accounting Association (AAA). Akuntansi itu merupakan :
“…Proses mengidentifikasikan, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi, untuk memungkinkan adanya penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut”.
“…the proceed of identifying, measuring and communicating economic information to permit informed judgment and decisions by user of the information”.
  1. FUNGSI DAN KEGUNAAN AKUNTANSI
Fungsi utama akuntansi adalah sebagai informasi keuangan suatu organisasi. Dari laporan akuntansi kita bisa melihat posisi keuangan suatu organisasi beserta perubahan yang terjadi di dalamnya. Akuntansi dibuat secara kualitatif dengan satuan ukuran uang. Informasi mengenai keuangan sangat dibutuhkan khususnya oleh pihak manajer/manajemen untuk membantu membuat keputusan suatu organisasi.
  1. CARA MENGGUNAKAN LAPORAN KEUANGAN
Pada dasarnya proses akuntansi akan membuat output laporan rugi laba, laporan perubahan modal, dan laporan neraca pada suatu perusahaan atau organisasi lainnya. Pada suatu laporan akuntansi harus mencantumkan nama perusahaan, nama laporan, dan tanggal penyusunan atau jangka waktu laporan tersebut untuk memudahkan orang lain memahaminya. Laporan dapat bersifat periodik dan ada juga yang bersifat suatu waktu tertentu saja.
Di bawah ini adalah contoh laporan rugi/laba pada perusahaan perdagangan pada umumnya.
Laporan Rugi/Laba
PT. PADARINGAN BANDY SHOP
PERIODE 31 DESEMBER 2008
Untuk periode terakhir 31 Desember 2008
Pendapatan :
Penjualan
10.000.000,00
Harga Pokok Penjualan :
Persediaan Awal
2.000.000,00
Pembelian
7.000.000,00
Tersedia Untuk Dijual
9.000.000,00
Persediaan Akhir
3.000.000,00
Harga Pokok Penjualan
6.000.000,00
Laba Kotor
4.000.000,00
Biaya Oprasional :
Biaya Komosi
500.000,00
Biaya Transportasi
100.000,00
Biaya Listrik, Telp, & Air
600.000,00
Biaya Gaji Pegawai
1.200.000,00
Biaya Penyusutan Bangunan
300.000,00
Biaya Penyusutan Inventaris
200.000,00
Total
2.900.000,00
Laba Oprasi
1.100.000,00
Biaya Bunga
100.000,00
Laba Sebelum Pajak
1.000.000,00
Biaya Pajak
200.000,00
Laba / (rugi) bersih
800.000,00
Di bawah ini adalah contoh neraca pengolongan biaya pada perusahaan dagang pada umumnya.
Neraca
PT. PADARINGAN BANDY SHOP
Per 31 Desember 2008
Aktiva
Aktiva Lancar :
Kas
1.000.000,00
Piutang Usaha
5.000.000,00
Uang Muka Pembelian
500.000,00
Persedian Barang
3.000.000,00
Total Aktiva Lancar
9.500.000,00
Aktiva Tetap :
Tanah
50.000.000,00
Bangunan
20.000.000,00
Akumulasi Penyusutan Bangunan
(5.000.000,00)
15.000.000,00
Inventaris Kantor
2.000.000,00
Akumulasi Penyusutan Inventaris
(500.000,00)
1.500.000,00
Total Aktiva Tetap
66.500.000,00
Total Aktiva
76.000.000,00
Hutang
Hutang Lancar :
Hutang Dagang
2.000.000,00
Hutang Gaji
500.000,00
Biaya yang masih harus dibayar
1.000.000,00
Total Hutang Lancar
3.500.000,00
Hutang Jangka Panjang :
Hutang Bank
20.000.000,00
Total Hutang Jangka Panjang
20.000.000,00
Total Hutang
23.500.000,00
Modal
Modal Disetor
40.000.000,00
Laba Ditahan
12.500.000,00
Total Modal
52.500.000,00
Total Hutang dan Modal
76.000.000,00
Rugi/laba digunakan untuk memberikan gambaran mengenai kinerja keuangan perusahaan, sedangkan neraca mengidentifikasi posisi keuangan perusahaan. Posisi keuangan dalam hal ini adalah posisi harta, hutang, dan modal. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi kepada pihak-pihak tertentu yang menyangkut posisi, kinerja, dan perubahan posisi keuangan sehingga bermanfaat sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi/bisnis.
Indonesia, seperti banyak negara lain, perekonomiannya didominasi oleh perusahaan menengah dan kecil yang masih belum terlalu menyadari sepenuhnya kegunaan akuntansi. Secara garis besar, sebuah toko dapat menentukan keadaan keuangannya. Jika menguntungkan, stok barang akan bertambah banyak dan sebaliknya. Tetapi jika ada yang bertanya berapa keuntungan sebenarnya, mereka tidak dapat mengetahuinya.
Keadaan seperti ini banyak sekali dijumpai dimana-mana, tidak hanya di Indonesia Jika memang ada diterapkan suatu sistem akuntansi, biasanya hanyalah untuk sebuah formalitas saja.
Sebenarnya, apakah bisnis semacam ini membutuhkan akuntansi? Jawabannya sebenarnya adalah tidak selalu. Tergantung dari cost dan benefitnya. Secara garis besar, kegunaan akuntansi adalah :
· Pemilik dapat melihat keuntungan perusahaan secara pasti.
· Pengontrolan biaya yang lebih mudah.
· Pemantauan aset-aset perusahaan.
· Likuiditas dan solvabilitas yang pasti.
· Prediksi keuangan.
  1. PENGGOLONGAN BIAYA
Tingkat persaingan yang tinggi menuntut perusahaan untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dengan harga murah, sehingga perusahaan perlu memberikan perhatian serius terhadap biaya kualitas. Analisa yang tepat terhadap biaya kualitas memungkinkan perusahaan untuk mengetahui sumber-sumber biaya kualitas yang tidak effisien sehingga dapat diambil tindakan yang tepat dan sesuai untuk mengatasinya. Effisiensi biaya kualitas pada akhirnya juga akan menurunkan biaya produksi dan meningkatkan daya saing perusahaan di pasar.
1. Definisi dan Pengelompokan Biaya Kualitas
Biaya kualitas merupakan biaya-biaya yang timbul dari semua kegiatan yang bertujuan untuk mencegah, menilai, dan memperbaiki kualitas dari produk/jasa yang dihasilkan oleh suatu industri. Biaya-biaya tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan metode Prevention Apprisal Failure (PAF) menjadi :
· Biaya pencegahan, yaitu biaya yang terjadi untuk mencegah kerusakan produk yang dihasilkan. Biaya ini meliputi biaya yang berhubungan dengan perancangan, pelaksanaan, dan pemeliharaan sistem kualitas.
· Biaya penilaian, yaitu biaya yang terjadi untuk menentukan apakah produk atau jasa telah sesuai dengan persyaratan-persyaratan kualitas.
· Biaya kegagalan Internal, yaitu biaya yang terjadi karena adanya ketidak sesuaian dengan persyaratan dan terdeteksi sebelum barang atau jasa dikirimkan ke pihak luar (pelanggan).
· Biaya kegagalan eksternal, yaitu biaya yang terjadi karena produk atau jasa gagal memenuhi persyaratan-persyaratan dan diketahui setelah produk tersebut dikirimkan kepada para pelanggan. Biaya ini dapat menyebabkan reputasi yang buruk, kehilangan pelanggan, dan penurunan pangsa pasar.
Elemen biaya kualitas untuk setiap jenis industri berbeda-beda karena disesuaikan dengan kondisi masing-masing proses dan karakteristik kualitas dari produk/jasa yang dihasilkan, tetapi pengelompokan dengan metode PAF berlaku secara umum bagi semua jenis industri.
2. Pelaporan Biaya Kualitas
Pelaporan biaya kualitas harus disesuaikan dengan informasi yang dibutuhkan dan kepada siapa akan dilaporkan. Top level manager membutuhkan informasi yang bersifat global untuk analisa dan keputusan jangka panjang. Middle level manager membutuhkan informasi dari masing-masing departemen untuk analisa dan keputusan jangka menengah. Sedangkan Low level manager membutuhkan informasi detail dari setiap bagian pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sehingga dapat membuat analisa dan keputusan jangka pendek.
3. Analisa Biaya Kualitas
Analisa terhadap biaya kualitas dapat dilakukan dengan berbagai macam metode. Dua metode yang paling dikenal dan mudah untuk digunakan, yaitu trend analysis dan pareto chart. Trend analysis digunakan untuk membandingkan data sekarang dengan data masa lalu. Trend analysis dapat memberikan informasi mengenai rencana jangka panjang dan penilaian terhadap program peningkatan kualitas. Melalui trend analysis bisa dilihat pergerakan biaya kualitas dari waktu kewaktu sehingga dapat dilakukan penilaian. Pareto chart adalah histogram dari faktor-faktor yang mempunyai kontribusi terhadap permasalahan kualitas, dibuat mulai dari yang mempunyai frekuensi paling banyak sampai dengan yang mempunyai frekuensi paling rendah.
Kegunaan dari Pareto chart untuk melihat bagian mana yang paling vital, yang nantinya akan dilakukan perbaikan pada bagian yang paling vital tersebut.
  1. PENGERTIAN DAN TUJUAN PENETAPAN HARGA POKOK
Sejak terjadinya krisis moneter pada tahun 1997, banyak perusahaan yang harus memulai usahanya dari bawah lagi. Baik perusahaan industri, manufaktur, jasa, pertanian maupun perusahaan lainnya, harus kembali bersaing dan harus menyesuaikan harga jual produknya dengan kondisi sekarang ini. Terlebih lagi dengan adanya inflasi dan yang sekarang ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan adalah sebagai contoh kenaikan bahan bakar minyak yang cukup tinggi yang memberikan dampak yang sangat besar bagi perekonomian di Indonesia khususnya bagi perusahaan yang menggunakan bahan bakar minyak dalam kegiatan produksinya. Dengan kenaikan BBM yang cukup tinggi tersebut membuat harga bahan-bahan pokok naik, tenaga kerja juga menuntut kenaikan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang tinggi, biaya telepon dan listrik pun ikut naik. Keadaan ini sangat menyulitkan bagi dunia bisnis. Belum lagi pada tahun awal 2009 nanti, harga BBM direncanakan akan mengalami kenaikan kembali itupun konon baru kabar berita. Hal ini tentu saja membuat perusahaan harus semakin hati-hati dalam menghasilkan produknya agar dapat bersaing dengan produk lain dalam pangsa pasar yang ada.
Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi juga berpengaruh terhadap perilaku dan proses produksi. Dengan makin meningkatnya pemakaian mesin-mesin untuk berproduksi yang menggantikan pemakaian tenaga kerja, maka kebutuhan akan tenaga kerja pun berkurang. Dengan meningkatnya penggunaan mesin, otomatis dalam perusahaan komposisi biaya produksi secara perlahan-lahan mengalami perubahan khususnya biaya konversi yaitu adanya penurunan biaya tenaga kerja dan kenaikan biaya overhead.
Pembebanan biaya bahan langsung dan upah langsung pada produk yang dihasilkan dapat dilakukan dengan tepat dan mudah karena biaya-biaya tersebut dapat dialokasikan secara langsung ke produk jadi, sedangkan pembebanan biaya overhead (biaya pabrikasi) pada produk yang dihasilkan perlu dilakukan dengan cermat karena biaya ini tidak dapat di identifikasikan secara langsung pada produk jadi sehingga membutuhkan metode alokasi tertentu. Dalam sistem tradisional (conventional system), pembebanan biaya overhead pada produk yang dihasilkan menggunakan unit level atau tingkat kegiatan anggaran yang berupa Jam Kerja Langsung (JKL), Jam Kerja Mesin (JKM), upah langsung, bahan langsung, prime cost dan unit. Pengalokasian ini menyebabkan adanya ketidaktepatan dalam perhitungan harga pokok produk, karena tidak semua sumber daya dalam produk dikonsumsi secara proporsional dengan jumlah barang yang dihasilkan.
Ketidaktepatan dalam perhitungan harga pokok membawa dampak yang merugikan bagi perusahaan, karena harga pokok berfungsi sebagai dasar untuk menetapkan harga jual dan laba, sebagai alat untuk mengukur efisiensi pelaksanaan proses produksi serta sebagai dasar untuk pengambilan keputusan bagi manajemen perusahaan.
Oleh karena itu, muncullah metode baru dalam perhitungan harga pokok untuk pertama kalinya di Amerika yang dikenal dengan nama Activity Based Costing (ABC) system, yang merupakan metode perbaikan dari sistem biaya tradisional. Metode Activity Based Costing ini merupakan metode baru yang dapat memberikan alokasi biaya overhead yang lebih akurat dan relevan. Pada metode ini, biaya overhead dapat ditelusuri ke aktivitas, bukan ke unit kegiatan seperti pada sistem tradisional. Kemudian biaya overhead dibebankan ke produk. Metode ini mengasumsikan bahwa yang mengkonsumsi sumber daya adalah aktivitas bukan produk itu sendiri.
BAB III
PENUTUP
  1. KESIMPULAN
Dalam Akuntansi ada pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, atau organisasi, dan lembaga pemerintah.
Akuntansi adalah seni dalam mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. Secara luas, akuntansi juga dikenal sebagai “bahasa bisnis”.
Akuntansi bertujuan untuk menyiapkan suatu laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham, kreditur, atau pemilik. Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal dengan istilah pembukuan.
Akuntansi keuangan adalah suatu cabang dari akuntansi dimana informasi keuangan pada suatu bisnis dicatat, diklasifikasi, diringkas, diinterpretasikan, dan dikomunikasikan.
Auditing, satu disiplin ilmu yang terkait tapi tetap terpisah dari akuntansi, adalah suatu proses dimana pemeriksa independen memeriksa laporan keuangan suatu organisasi untuk memberikan suatu pendapat atau opini – yang masuk akal tapi tak dijamin sepenuhnya – mengenai kewajaran dan kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi yang diterima umum.

DAFTAR PUSTAKA
M Bartolozzi and R Franci, The theory of proportions in abacus mathematics from Leonardo Pisano to Luca Pacioli (Italian), Boll. Storia Sci. Mat. (1990).
Meigs, Walter B. and Robert F. Meigs. Financial Accounting, 4th ed. McGraw-Hill, 1970, p.1. ISBN 0-07-041534-X (old edition).
Sugiarto. Pengantar Akuntansi, Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta:2002 ISBN 979-689-057-7.
Horngren, dkk. Akuntansi, jilid 1. edisi 6. Indeks, Jakarta:2006. ISBN 979-683-757-9.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar